" GIB harus menjadi yang terbaik dalam memantau kinerja dan menjadi mitra Pemerintah"

OPINI

“Pengabdian Tanpa Batas, Biarlah Tuhan Yang Membalas”

GIB Harus bangkit dari pengaruh kepentingan sesaat

Dimasa ini GIB dituntut bersatu untuk membuka tabir kepura-puraan yang mengatas namakan rakyat  yang mementingkan keuntungan sesaat, melihat perkembangannya diawal dibentuknya GIB tahun 2002 bukanlah apa-apa, GIB terbentuk oleh jaringan akar rumput yang setia dan berpandangan satu untuk memajukan dan mejaga dan mendukung  NKRI dari gangguan dalam negeri dan dari pihak luar yang ingin memecah belah Negara tercinta ini.

GIB Sumut adalah salah satu DPPropinsi yang berkeinginan agar peran serta GIB dapat diterima disela-sela kehidupan dalam bernegara di Pulau Sumatera ini, dengan moto “Pengabdian Tanpa Batas, Biarlah Tuhan Yang Membalas” GIB dituntut untuk selalu bekerja dan berfikir untuk kemajuan Bangsa ini. Sudah saatnya GIB diseluruh Indonesia bersatu dan kembali kepada tujuan awal kita dan jangan sampai dimanfaatkan oleh kepentingan perorangan dalam mencapai tujuan yang mengorbankan ribuan akar rumput dan tanpa kejelasan untuk program organisasi yang ingin mempengaruhi lewat politik-politik praktis dan dengan tujuan-tujuan yang tidak benar arahnya.

Kecintaan kita kepada Bangsa adalah modal dasar dari terbentuknya sel-sel persatuan dan kesatuan untuk selalu mementingkan kepentingan Negara diatas kepentingan Pribadi maupun Golongan

Akhir kata GIB Sumut ingin membuka mata dan telinga kita bersama untuk membesarkan GIB yang sudah berumur 9 (sembilan) tahun ini agar tetap eksis tanpa harus pesimis walaupun kehilangan seorang ataupun dukungan moral dari suatu golongan..maju..maju..pantang mundur, masih banyak kader-kader terbaik GIB yang masih dan Mampu untuk membesarkan GIB ini baik modalnya hanya “Semangat dan Moril saja”. Mudah-mudahan Tuhan mendengar dan memberikan jalan keluar yang terbaik untuk GIB.

“Patah Tumbuh Hilang Berganti..Mati Satu Tumbuh Seribu”

ttd,

GIB Sumut.

Jadikan Pendidikan Antikorupsi Dalam Kurikulum Sekolah!



Sejak pemerintahan SBY, pemerintah dengan lantangnya menyerukan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Lembaga yang dibentuk pemerintah yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), didirikan sebagai salah satu lembaga yang bertujuan memusnahkan korupsi yang terjadi dalam pemerintahan. Tidak pandang bulu merupakan prinsip KPK dalam memberantas korupsi. Maksudnya adalah siapa pun yang terkait kasus korupsi atau dicurigai melakukan korupsi akan diusut tuntas, termasuk presiden apabila terkait dengan kasus korupsi.
Pada 9 Desember lalu, kita peringati Hari Antikorupsi Sedunia. Semua orang turun ke jalan menyampaikan aspirasinya terhadap pengaruh korupsi bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Semua berharap, korupsi di negeri ini hangus terbakar sampai ke akarnya. Langkah itu tidak akan cukup untuk membuat para koruptor jera.
Pendidikan antikorupsi sejak dini sangatlah penting. Seharusnya pendidikan antikorupsi menjadi kurikulum dalam pembelajaran di sekolah. Karena Indonesia menjadi negara terkorup di dunia. Sungguh prestasi yang memalukan. Pendidikan antikorupsi memberikan pengaruh bagi siswa dari segi positifnya, yaitu bagaimana korupsi itu sangat merugikan negara dan masyarakat Indonesia.
Untuk mencegah korupsi, mulailah dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Orang tua hendaknya memberikan contoh terhadap anaknya, bagaimana menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak menumbuhkan rasa kekurangan dan selalu berusaha keras dalam mencari sesuatu yang bersifat halal.
Saya harap, pemerintah menjadikan pendidikan antikorupsi sebagai kurikulum dalam pembelajaran di sekolah. Saya sedih dengan keadaan bangsa ini. Korupsi menjadi pekerjaan yang “dihalalkan” di kalangan pejabat, sedangkan masyarakat semakin melarat.

Gedung Baru DPR: Penipuan Nyata di Depan Mata Rakyat

Rumah Rakyat yang Sebenarnya. (foto by : ist, google).

SAYA benar – benar marah saat ini. Tulisan inipun saya tulis dengan emosional. Jika masih berstatus mahasiswa, mungkin saya akan kembali turun ke jalan. Sukar bagi saya untuk menolak fakta, sudah sebegitu banyaknya paballe – balle (pendusta) di Senayan. Semua diakal – akali, mereka telah menipu rakyat, mereka bersenang – senang diatas penderitaan rakyat, dengan logika yang dibuat – buat, pembangunan gedung baru DPR diwacanakan seakan itu sebuah kebutuhan mendesak. Sayapun menduga, bahwa inilah hasil studi banding anggota DPR kita ke luar negeri, mereka terpesona dengan kemajuan Negara lain, mereka terpukau dengan bangunan gedung pencakar langit, dan mereka silau dengan gemerlap gaya hidup orang barat. Mereka telah lupa menengok pemukiman kumuh di bantaran – bantaran sungai, bencana alam yang datang berentetan, kesulitan air bersih, kemiskinan yang mengakrabi nelayan dan masyarakat pesisir, petani yang menjerit karena puso, iklim ekstrim dan tentu saja gagal panen, pendidikan yang amburadul, dan pelayanan kesehatan yang tak bersimpatik, dan lain sebagainya yang kesemuanya mereka tak mau tahu.   TIDAK PERCAYA ?? COBALAH MINTA KEPADA MEREKA BAGAIMANA MEMETAKAN PERSOALAN NEGERI INI DAN BAGAIMANA MENGATASINYA ???

Berbicara wakil rakyat itu tak peka nampaknya sudah klise. Politisi di senayan memang sudah lama tak memihak rakyat miskin. Sekarang, mereka bicara kepentingannya-Senayan sudah sesak, mereka perlu tambahan gedung baru. Anda tahu berapa anggarannya ? Baru pada tahap rancangan saja sudah menghabiskan anggaran Rp 14,5 miliar, Bagaimana menjelaskannya ? Tentu di benak mereka, gedung baru akan menyempurnakan penampilan. Kalau anda pernah ke senayan, cobalah rasakan suasana show room parkiran mobil mewah yang ada disana. Ada Hummer seharga Rp. 1,4 M, Mersedez Benz seharga Rp. 1.9 M dan yang paling murah adalah Toyota Harrer seharga Rp. 660 juta. Ini belum lagi kalau kita urai satu persatu fasilitas yang mereka terima sebagai selebritas politik yang serba WAH,  WAH,  DAN  WAAHHHH .

Beberapa waktu lalu saya terpukau oleh penjelasan BAPAK KETUA DPR RI, YANG TERHORMAT MARZUKI ALIE bahwa nantinya pembangunan gedung baru DPR RI yang memakai biaya sekitar Rp. 1,1 Triliun selesai maka itu akan menciptakan lembaga parlemen yang lebih kredibel. Dan dengan lembaga DPR yang kredibel beliau yang terhormat itu yakin akan dapat ditingkatkan efisiensi alokasi dan pemakaian anggaran minimal 5%. Menurut beliau-sekali lagi, yang terhormat itu—lembaga DPR yang kredibel mampu mengefesiensi dana setiap tahunnya sebesar Rp. 60 Trilliun atau lebih yang dapat dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Hal ini jauh lebih besar dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp.1,1 Trilliun untuk masa 2 tahun (Rp.0,55 Trilliun/ tahun) atau hanya 0,05% dari APBN.  BENARKAH  ?? Benarkah ? Benarkaahh ??? Benarrrkaaah ????? Beenaarrrrkaaaaahhhhhhhhh ???????????????

Salah satu alasan yang mengemuka dari dasar pembangunan gedung baru DPR tersebut adalah memperkuat fungsi legislatif. (Haaa ??). Ketua DPR RI, Marzuki Ali mengungkapkan bahwa hal tersebut sesuai dengan visi ke depan DPR RI, “Terwujudnya DPR-RI sebagai Lembaga Perwakilan yang kredibel dalam mengemban tanggungjawab mewujudkan masyarakat adil dan makmur”. (Untuk mencapai visi tersebut, diperlukanlah gedung baru itu ???  IYAKAH ???.

Dimana titik temu logikanya. Gedung baru DPR tersebut menurut informasi beberapa anggota DPR RI nantinya lebih banyak ditempati staf ahli DPR. Akal – akalan apalagi ini ? Staf Ahli DPR yang pekerjaannya tak jelas. Kalaupun staf ahli tersebut jelas tugas pokok dan fungsinya (tupoksi), adakah kita melihat hasil pekerjaannya berkorelasi dengan produk legislasi atau tercermin dalam produk parlemen. Menurut pengakuan sejumlah anggota DPR, ruang kerja mereka sudah sempit dan sumpek. File bertumpuk dan mejanya berdempetan dengan staf ahlinya, belum lagi sekretarisnya. Setiap anggota DPR sekarang punya 2 staf ahli, ada pula yang menyebutnya 4 staf ahli. Benar – benar simpang siur. Adakah kita melihatnya ini sebagai tanda tidak transparannya keberadaan staf ahli, lagian buat apa seorang wakil rakyat punya staf ahli, apalagi jumlahnya sampai empat ? Ditambah lagi Sekretaris, waduh …  Betul – betul, kayak Dirut Perusahaan multinasional saja.

Saya pernah menyambangi gedung wakil rakyat tersebut beberapa kali pada masa Soeharto berkuasa, sekarang saya kenal beberapa anggota DPR RI sekarang karena pernah bersaing dalam dua kali pemilu legislatif, 1999 dan 2004. Dahulu satu ruangan diisi 4 anggota DPR ditambah satu ‘pelayan yang kerjanya serabutan’, merangkap sekretaris, penjaga telepon, dan buruh pembeli nasi bungkus di kantin DPR. Sekarang, setiap anggota DPR punya ruangan sendiri dengan berbagai fasilitas ruangan yang mewah, ditambah pula sekretaris pribadi dan staf ahli. Adakah kemajuan yang kita lihat dan rasakan dari produk legislasi yang dihasilkan. Saya melihatnya malah tambah amburadul. Buktinya, dari 70 RUU (Rancangan Undang – undang) setiap tahunnya, hanya 12 – 14 yang selesai. Mungkinkah hal ini karena faktor sekretaris yang sering ‘dibawa jalan dan shoping’. Waduuuhh.

Sepakatkah kita dengan pembangunan gedung baru DPR sekarang ? Sepakatkah kita dengan keberadaan staf ahli per anggota DPR ? Apakah kita tak melihat hal ini sebagai akal – akalan dan pemborosan anggaran. Bayangkan saja, kalau staf ahli 4 orang per anggota DPR RI, berarti dari 560 wakil rakyat harus ada 2.240 staf ahli + 560 sekretaris. Ya, bagaimana tidak sesak, itupun belum cukup, karena masih ditambah sejumlah itu pula sopir untuk masing – masing anggota DPR. Dari azas manfaat, apa hal ini bukan sesuatu pemborosan, ini tentu sangat menunjukkan bahwa mereka tak benar – benar ahli, baik wakil rakyat maupun staf ahlinya. Pemandangan tidur para selebritas politik itu saat rapat paripurna di senayan semakin menguatkan dugaan kita. Begitu banyak orang yang ‘dianggap kompeten’ dengan begitu sedikit output yang dihasilkannya. TIDAKKAH KITA LAYAK MENCURIGAINYA ????

Saya yakin 36 lantai gedung baru DPR itupun nantinya akan langsung sesak. Dalam satu ruangan anggota DPR dengan staf ahli dan sekretarisnya, berapa lemari yang dibutuhkan untuk berkas – berkas file legislasi ditambah meja kerja dan satu set meja kursi tamu per ruangannya. Efesiensi berkas kerja sangat sulit kita harapkan mengingat sebagian besar anggota DPR adalah makhluk ‘gagap teknologi’. Sangat aneh rasanya, jika di jaman yang sudah sedemikian maju saat ini, seorang anggota DPR RI masih memikirkan satu lemari antik (dan tentu saja mahal) untuk menyimpan 100 Rancangan Undang – Undang (RUU), padahal hal tersebut bisa dimasukkan dalam flashdisk, dan tentu saja bisa dibawa kemana – mana. Lebih anehnya lagi, karena 100 RUU itu disimpan dalam lemari dan sebagai gantinya, sekretarisnya yang dibawa kemana – mana.  JIKA SUDAH SEPERTI INI, MASIH LAYAKKAH SEORANG ANGGOTA DPR MEMBANGGAKAN DIRI-NYA ??  DAN PANTASKAH KETUANYA SENDIRI, MARZUKI ALIE, MENYEBUT HAL INI SEBAGAI “PERTARUNGAN MEREBUT CITRA” ?? (***)

Tambahan Gedung baru DPR RI ?? Inikah Rumah Rakyat ??? (foto : ist, google).

Sumber : http://www.kompasiana.com/mfaridwm

Semakin lama SBY berkuasa,

semakin miskin dan terkikislah para koruptor di Indonesia

“Anti korupsi…Hapus korupsi…Tangkap korupsi…Adili korupsi” adalah selogan yang selalu terdengar bila terjadi ketidak adilan di Bangsa ini dan pastilah disebabkan oleh tikus-tikus yang tak pernah lelah untuk menggerogoti lumbung-lumbung keuangan yang ada disuatu Instansi maupun dikehidupan bermasyarakat.

Godaan untuk melakukan tindakan korupsi tidak terlepas dari individu yang tidak sanggup menahan diri akan bujuk rayu dalam menghasilkan keuntungan yang besar untuk kepentingan pribadi tanpa melihat dan memikirkan hasil dan sebab dari tindakan yang akan diakibatkan dari “korupsi”.

“SBY sebagai Presidan RI telah mencanangkan untuk memerangi para koruptor di Indonesia”

Tindakan itu tidaklah berhasil tanpa ada kesadaran dari diri sendiri sebagai contoh untuk tidak melakukan dan menjauhi korupsi, koordinasi aparat berwenang perlu ditingkatkan dalam menangkap maupun mencegah agar tidak terjadi korupsi, dan perlu diingat juga kinerja aparat berwenang tidaklah efektif tanpa ada informasi dari masyarakat umum yang saling bekerjasama.

Penindakan untuk menghukum para koruptor jangan pernah memandang Ras, Golongan, Jabatan, siapapun yang melakukan korupsi harus dihukum walaupun berlatar belakang seorang anggota Eksekutif, Legeslatif, Yudikatif maupun Anggota KPK sekalipun. Bila bersalah dan mampu dibuktikan dengan data dan fakta harus diseret ke Pengadilan untuk dibuka kesalahannya.

Pembuktian untuk membuka tabir korupsi di Indonesia perlu dibuka secepat mungkin dengan transparan dan dibarengi dengan data-data yang bisa dipertanggung jawabkan di Pengadilan, jangan hanya sekedar melemparkan fitnah tanpa dibarengi fakta dan data, perbuatan ini merupakan suatu pelecehan Hak Warga Negara.

“Azas Pembuktian Terbalik” adalah acuan untuk menjerat pelaku korupsi yang disebut juga dengan koruptor, dengan azas ini para aparat penegak hukum tidak harus mencari-cari kesalahan yang disangkakan sebagai  koruptor, dan sebaliknya pihak yang disangkakan koruptorlah yang akan menerangkan secara detail asal dari sumber yang disangkakan.

Sebagai Warga Negara yang baik kita harus siap untuk membantu mencegah dan melaporkan tindakan-tindakan yang dapat mengikis rasa Nasionalisme dan kecintaan kita kepada NKRI.

Oleh : Redaksi GIB Sumut

Prospek Indonesia 2030

Di tengah hiruk-pikuk permasalahan yang melilit bangsa Indonesia pada khususnya, bahkan dunia saat ini pada umumnya, banyak hal menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh komponen bangsa baik pimpinan nasional maupun masyarakatnya. Hal ini menjadi penting, dimana salah satunya adalah mendorong untuk mengedepankan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai penjembatan dan skala prioritas guna peningkatan daya saing bangsa dalam kancah peningkatan ekonomi dan pergaulan dunia.

Indonesia sendiri, saat ini masih marak di ributkan dengan isu politik dan ekonomi, baik sebagai pembicaraan sehari-hari masyarakat maupun di media-media. Ini menjadikan sains dan teknologi, atau lebih dikenal dengan sebutan Iptek, seperti jatuh dalam skala nonprioritas. Pencerminan isu Iptek itu rendah dilihat dari rendahnya dana riset, yang masih di bawah 0,1 persen pendapatan domestik bruto pada 2009, dunia ilmiah Indonesia masih belum bisa merebut perhatian di kancah dunia.

Minimnya anggaran, bukan dijadikan kambing hitam didalam menumbuhkan Kekuatan Iptek, akan tetapi yang dibutuhkan adalah kesepakatan dan komitmen pimpinan nasional beserta masyarakat itu sendiri didalam menjawab tantangan. Didalam era globalisasi yang tengah dihadapi saat ini, masalah mengedepankan Iptek dapat diselesaikan lewat kemitraan yang didasarkan kepada kepentingan bersama, rasa saling menghargai, dan prinsip keadilan dan kemajuan yang sama-sama dimiliki.

“Ilmu Pengetahuan dan Teknologi memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini – dari perubahan iklim hingga pelestarian keaneka ragaman biologis. Terlebih lagi, pengetahuan dan Inovasi akan menjadi bahan kemakmuran ekonomi di abad ke 21”,  ujar Dubes Amerika dalam membacakan sambutan pribadinya Presiden Obama dihadapan para ilmuwan Indonesia di Auditorium Gedung Graha Widya Bhakti  Puspiptek, Serpong pada tanggal 20 Januari 2010.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama antara Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) ini,  merupakan tatap muka Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan para ilmuwan yang tergabung dalam Dewan Riset Nasional,  Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Masyarakat Ilmiah Indonesia pada umumnya dengan tajuk “Silaturahmi Presiden RI dengan Masyarakat Ilmiah” dan menjadi momen langka yang sangat  penting,  karena betapa pun masih banyak urusan lain yang tidak kalah pentingnya, namun perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknmologi harus dipikirkan pula oleh Pimpinan Nasional.
Menurut Ketua AIPI, Sangkot Marzuki,  dengan terselenggaranya  acara ini  diharapkan dapat memberikan pemahaman pada para anggota AIPI dan Ilmuwan seluruh Indoensia mengenai visi pengembangan Iptek ke depan. Selain itu juga menjadi kejadian tonggak  atau momentum bangkitnya Iptek Indonesia, sebagai tonggak sejarah dengan pertama kalinya presiden RI dari seluruh Presiden-presiden RI sebelumnya, berbicara Visi Iptek Indonesia, didepan anggota AIPI dan Ilmuwan Indonesia pada umumnya. Hal yang sama juga disampaikan Habibie yang mengatakan:” sejak berdirinya AIPI, baru pertama kali Presiden RI berbicara didepan para anggota AIPI dan Para Ilmuwan Nasional”. Selanjutnya : “hanya seorang presiden yang meyakini bahwa peran iptek itu penting dan amat menentukan bagi masa depan bangsanya saja, yang akan mengambil langkah tersebut”. Ujar B.J.Habibie dalam paparannya.

Sedangkan kejadian langka ini, sudah pernah 3 kali dalam kepemerintahan negara AS dengan tiga pimpinan nasionalnya, berbicara didepan anggota AIPI dan para ilmuwan negaranya, seperti Abraham Lincoln, Kennedy dan yang terakhir Presiden Barack Obama. Ketiga pimpinan terebut  sadar betul bahwa penguasaan iptek sudah menjadi tonggak kemajuan bangsanya dan prospek dalam peningkatan ekonomi bangsa.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

AIPI yang didirikan berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1990 merupakan wadah yang bertujuan menghimpun ilmuwan Indonesia terkemuka untuk memberikan pendapat, saran dan pertimbangan atas prakarsa sendiri dan/atau permintaan; mengenai penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan Iptek kepada pemerintah serta masyarakat untuk mencapai tujuan nasional.

Peran AIPI adalah melakukan kajian, memantau, menilai, menyusun arah, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan Iptek. Sesuai dengan peran tersebut AIPI menerbit buku “ Memorandum AIPI, Prospek Indonesia 2030”.  Isi dari buku tersebut hasil telaahan, pengamatan, pandangan, gagasan, dan buah pemikirannya tentang pelbagai masalah penting yang dihadapi tanah air menjelang tahun 2030.

Masukan menarik yang dituliskan didalam buku tersebut adalah: tinjauan pada bidang sistem sosial dan politik yang mencakup perkembangan kehidupan politik yang dijalankan berdasarkan demokrasi yang telah dipijakkan pada multi partai; tinjauan sistem ekonomi  pembangunan  yang mencakup pembahasan mengenai infrastruktur ekonomi; dan tinjauan pembangunan berbasis pengetahuan, ilmu dan  teknologi, yang mencakup pembangunan Indonesia menjelang 2030 serta pola pembangunan yang telah dijalankan. (SS/Humasristek)

Sebuah Era dengan Kejadian-Kejadian Penting


Pada tahun 1919, HOS Tjokroaminoto bertemu tiap hari Kamis siang di Kota Surabaya dengan dua saudara sepupunya. Mereka adalah KH M Hasjim As’yari dari Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang dan KH A Wahab Chasbullah.Tjokroaminoto disertai menantunya Soekarno, yang kemudian hari disebut Bung Karno.

Mereka mendiskusikan hubungan antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan/ nasionalisme. Terkadang hadir HM Djojosoegito, anak saudara sepupu keduanya, yang kemudian hari (tahun 1928) mendirikan Gerakan Ahmadiyah. Dari kenyataan-kenyataan di atas dapat dipahami mengapa Nahdlatul Ulama didirikan tahun 1926, selalu mempertahankan gerakan tersebut.

Di kemudian hari, seluruh gerakan Islam itu dimasukkan ke elemen gerakan yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Itu adalah perkembangan sejarah. Ada generasi kedua dalam jajaran pendiri negeri kita, yaitu Kahar Muzakir dari PP Muhammadiyah, KH Abdul Wahid Hasyim dari NU, dan HM Djojosoegito (pendiri gerakan Ahmadiyah).

Tiga sepupu yang lahir di bawah generasi KH M Hasjim As’yari itu banyak jasanya bagi Indonesia. Mereka banyak mengisi kegiatan menuju kemerdekaan negeri kita. Setelah wafatnya Djojosoegito, muncul letupan keinginan membubarkan Ahmadiyah,tanpa mengenang jasajasa gerakan itu di atas. Padahal dalam jangka panjang,jasa-jasa itu akan diketahui masyarakat kita.

Dalam melakukan kegiatan,mereka tidak pernah kehilangan keyakinan. Apa yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan Indonesia merdeka.Karena itu,segala macam perbedaan pandangan dan kepentingan mereka disisihkan.Mereka mengarahkan tujuan bagi Indonesia. Mereka terus menjaga kesinambungan gerakan yang ada,guna memungkinkan lahirnya sebuah kekuatan yang terus menggelorakan perjuangan.

Hingga kemudian,NU melahirkan sebuah media pada 1928yangdinamai SoearaNU. Hal itu dilakukan guna memantapkan upaya yang ada.Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dipakai untuk kepentingan tersebut. Dalam nomor perdana majalah Soeara NU, KH Hasjim As’yari menyatakan bahwa ia menerima penggunaan rebana dan beduk untuk keperluan memanggil salat.

Namun, dia menolak penggunaan kentungan kayu. Menurutnya, penggunaan beduk dan rebana didasarkan pada sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.Sementara penggunaan kentungan kayu tidak ada dasarnya.Hal ini disanggah oleh orang kedua NU waktu itu, yaitu KH Faqih dari Pondok Pesantren Maskumambang di Gresik.

Hal itu dimuat sebagai artikel balasan dalam media “Soeara NU”edisi selanjutnya.KH Faqih menyatakan, “Apakah KH Hasyim lupa pada dasar pembentukan hukum dalam NU, yaitu Alquran,hadis, ijmak,dan qiyas?” Segera setelah itu, KH Hasyim As’yari mengumpulkan para ulama dan santri senior di Masjid Tebuireng.

Dia menyuruh dibacakan dua artikel di atas.Kemudian, dia mengatakan, mereka boleh menggunakan pendapat dari KH Faqih Maskumambang asalkan kentungan tidak dipakai di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng itu. Terlihat di sini betapa antara para ulama NU itu terdapat sikap saling menghormati meski berbeda pendirian.

Hal inilah yang harus kita teladani dalam kehidupan nyata. Penerimaan akan perbedaan pandangan sudah berjalan semenjak Fahien memulai pengamatannya atas masyarakat Budha di Sriwijaya dalam abad ke-6. Prinsip ini masih terus berlanjut hingga sekarang di negeri kita dan hingga masa yang akan datang. Sudah pasti kemerdekaan kita harus dilaksanakan dengan bijaksana dan justru digunakan untuk lebih mengokohkan perdamaian dunia.

Karena itu, diperlukan kemampuan meletakkan perdamaian dalam penyusunan politik luar negeri,yang diiringi dengan tujuan memperjuangkan kepentingan bersama. Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal-muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.

Bukankah kekuatan kita sebagai bangsa terletak dalam keberagaman yang kita miliki? Marilahkitabangunbangsadankita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s